Rabu, 04 Januari 2012

to my lecture

    alhamdulillah ...,
    sebuah lecutan yang memberikan kesadaran datang dalam banyak bentuk, yang sungguh bukan menjadi wilayah kita untuk memosisikanya pada keadaan dan situasi yang telah tertentukan saja. Saya menyebutnya sebagai sebuah KESADARAN,
    meski apa yang saya rasakan masih teramat dangkal dari permukaan yang mewujud dan tentu saja belum menelisik masuk menghunjam ke palung terdalam dari esensi kesadaran yang saya sebutkan sebelumnya.
     Lalu, istilah apakah yang lebih tepat untuk menggambarkan emosi yang saya rasakan saat menulis ini. Saya memutuskan untuk memberanikan diri memulai (lagi) langkah awal, disaat kondisi yang mungkin kita dapat bersepakat tentangnya dengan menyimpulkan pesan "sebaiknya ditunda" atau pesan terlisan lainya yang semakna dengan hal tersebut.
     Ya, Allah Maha Adil dan kita tak dapat menjustfikasi segala kekurangan yang ada pada diri dan atau sebagian kita sebagai bentuk pilih kasih Allah. Banyak telah tulisan yang termuat dari mereka yang lebih memahami hakikat, ketimbang bagi saya mencoba untuk menjelaskanya, namun apa yang coba saya kemukakan tidak lebih dari kekaguman kepada Allah atas seorang Manusia yang telah diciptakanya. Ia yang pada waktu tertentu dapat saya perhatikan secara langsung, dengan paras teduh seolah air kondisioner yang tidak hanya mendinginkan namun juga menyinarkan ketenangan susana sekitar di alam Pekanbaru yang begitu terik.
     Malam ini kali kedua bagi saya membuka sebuah media sosial populer daring yang telah lebih dari tiga bulan ini saya biarkan hangus terpanggang menggantung diatas awan didalam brankas kepanasan, berdesak penuh sesak, sehingga sang empunya layanan tak henti - hentinya mengajak bertamu kembali.
     Saya telah memenuhinya setelah apa yang saya lakukan terasa cukup dan sesuai dengan ikrar semula.              Setidaknya dalam hal ini kita dapat memulai dengan sebuah komitmen yang cukup berat untuk dilakukan namun tentunya bukan sebuah perkara sulit untuk digapai, dan saya ingin menyebutnya sebagai sebuah pencapaian, bolehkah ?
    Tak selalu klaim subjektif harus tetap dipertahankan meski bagi seorang Sang Idealis sekalipun, karena subjektifitas pada kondisi tertentu juga kerap memberikan kesadaran tentang sebuah kekeliruan.
    Dari salah satu aktifitas teman di media tersebut saya menemukan sebuah tautan, akun yang belum pernah terpikirkan, meski selama ini saya telah mengenal lewat aktifitasnya dan saya katakan saya "kagum", telah di-author olehnya.
     Kekaguman kepada sosok manusia akan lebih terasa real jika kita merasakan  interaksi, melihat lebih dekat, lebih jelas sehingga langsung dapat meresap kedalam lebih lama.
     Mungkin ini sebuah emosi, ungkapan perasaan yang memberi efek kejut kepada motorik sehingga menopang kelopak mata untuk tetap terbuka mengetikan kata demi kata mengecilkan arti penting istirahat. Lalu bagaimana seandainya jika kesadaran itu diberikan kepadaku untuk mengetahui transendensi dari Sang Maha Pencipta Keagungan, aku berdoa ini menjadi langkah awal bagiku untuk memahami hakikat kuasa-Mu. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar